[x] close
New User Sign Up

Komunitas

Fans Club

  • print
  • send
  • bookmark
30 November 2009 | 09:23

Ring Back Tone Suporter

Arema Voice (Foto: Dok. SOCCER)

Tiga kelompok suporter di Indonesia, Viking, Aremania dan The Jakmania bikin gebrakan inovatif. Mereka menciptakan lagu-lagu heroik untuk membangkitkan loyalitas anggotanya. Karya cipta tersebut dikomersialkan dalam bentuk Ring Back Tone (RBT). Ini jelas menggembirakan. Sebab, ketika lagu-lagu mereka diunduh, pemasukan organisasi atau klub bisa ikut bertambah.

Aremania misalnya. Awal November lalu (7/11) salah satu kelompok militan Aremania bernama Arema Voice, resmi merilis album baru mereka yang berisi 12 lagu. Dari kesepakatan dengan manajemen Arema Malang, sebagian hasil penjualannya diperuntukkan kas klub.

“Arema telah menjadi kebanggaan masyarakat Kota Malang, jadi mereka layak dibantu,” kata salah seorang personel Arema Voice, Wahyu GV.

Hal ini bagai tetesan air di padang pasir bagai Singo Edan. Maklum, dua kali jawara Piala Indonesia itu masih disibukkan dengan urusan pendanaan klub. Pemasukan dari sponsor belum seluruhnya didapat. Sementara bantuan dari APBD tak bisa banyak diharapkan.
Dirut PT Arema Indonesia, Gunadi Handoko, mengungkapkan, saat ini Arema kekurangan dana sekitar Rp6 miliar. Diharapkan pemasukan dari RBT ini bisa menutupinya.

Berbeda dengan Aremania, Viking dan The Jakmania tidak memberikan pemasukan dari RBT ke klub kesayangannya. “Kami berpikir, hasilnya lebih pas untuk organisasi. Karena banyak aktivitas organisasi yang butuh banyak dana,” kata Herru Djoko, Ketua Viking.
“Satu lagi, memakai RBT bikinan kami sendiri tentu sebuah kebanggaan. Visi kami, RBT adalah dari dan untuk anak-anak pendukung Persib,” tambah Herru.

Sementara The Jakmania menjelaskan, sengaja tak memberikan sebagian hasil penjualan RBT ini ke klub lantaran merasa finansial klub lumayan sehat. “Jadi operasional The Jakmania lebih membutuhkan,” jelas Rico, Ketua 1 Jakmania.

Saat ini The Jakmania butuh dana untuk membiayai aktivitas di tiap ranting. Jika dana tak mencukupi, maka pendapatan dari penjualan RBT terpaksa diambil. “Jumlahnya tak besar, tapi cukup membantu,” tambah Rico.

HASIL KARYA SENDIRI

Meski penggunaan hasil berbeda-beda, ada satu kesamaan yang dimunculkan tiga kelompok suporter ini. Nyaris sebagian besar lagu yang dikomersialkan, semua karya pendukung sendiri. Bukan menyewa pengarang lagu. Apalagi hasil plagiat.
“Ada satu karya dihasilkan oleh mantan ketua kami. Namun ada juga band internal kami seperti Ondal-ondel. Tapi kami pastikan tidak ada satu lagu pun dari pihak luar. Semua murni karya kami,” jelas Rico.

Viking juga sama. Mereka memastikan semua lagu dibuat sendiri. “Diciptakan oleh band-band yang ada di Bandung. Kami tidak mengambilnya dari luar,” jelas Herru yang mengaku sudah menjual RBT klub sejak dua tahun lalu ini.

Hanya saja, masih ada persoalan yang dialami. Ternyata penjualannya selama ini belum seperti yang diharapkan. “Tidak semua bobotoh menggunakan RBT hasil karya kami. Ini yang menjadi pe-er kami,” kata Heru.

Disinyalir faktor minimnya promosi yang membuat penjualannya seret. “Tidak semua anggota The Jakmania tahu. Ini yang harus kami siasati. Anggota harus sadar, RBT sangat membantu finansial organisasi,” pungkas Rico. (hanif)

  • Rating :
  • 3/5 (30 votes)

Artikel Lainnya

Top Rated Article

Comment n Share on your facebook


Komentar

Emoticons
    • Very Happy
    • Smile
    • Sad
    • Surprised
    • Shocked
    • Confused
    • Cool
    • Laughing
    • Mad
    • Razz
    • Embarassed
    • Crying or Very sad
    • Evil or Very Mad
    • Twisted Evil
    • Rolling Eyes
    • Wink
    • Exclamation
    • Question
    • Idea
    • Arrow
Character remains :

My Team