[x] close
[x] close

New User Sign Up
21 November 2011 | 06:23

Untung Kita Punya RD

Asep Ginanjar
Asep Ginanjar

Garuda Muda terbang tinggi. Kamboja, Singapura, Thailand, dan Vietnam dilalui, final pun dijelang. Tinggal Malaysia satu-satunya penghalang untuk merebut medali emas SEA Games yang terakhir kali diraih pada 1991. Seperti biasa, puja-puji mengalir sederas air bah, seperti pula gelombang suporter yang kian menggila.

Laiknya tim yang tengah melambung, para pemain langsung menjadi buah bibir dan idola baru. Duo Patrich Wanggai dan Titus Bonai yang mencetak sembilan dari 13 gol adalah dua yang paling digilai publik. Simak saja reaksi suporter di seantero Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) yang selalu lebih riuh ketika dua nama itu diumumkan stadium announcer.

Titus-Patrich dan para pemain lain memang punya peran besar dalam membawa Indonesia ke final SEA Games yang terakhir kali digapai 14 tahun silam. Namun, jangan kesampingkan pula peran pelatih Rahmad Dharmawan. Pelatih yang melambung tinggi saat menukangi Persipura dan Sriwijaya FC itu justru bisa dibilang sebagai kunci utama kesuksesan Tim Garuda Muda.

Di SEA Games kali ini, Coach RD menunjukkan kelasnya sebagai pelatih jempolan. Dua laga menghadapi Malaysia di penyisihan Grup A dan Vietnam di semifinal adalah buktinya.

Ada dua hal menonjol yang dilakukan RD saat menghadapi Malaysia. Pertama, dia pandai menentukan prioritas. Meski dianggap laga penting karena kesumat publik sepak bola Indonesia terhadap Malaysia, dia tak termakan rivalitas dengan memilih menurunkan para pemain lapis kedua. Seperti halnya para pelatih hebat, RD tahu kapan harus menang, kapan boleh melepas pertandingan. "Saya selalu katakan kepada para pemain, setiap laga itu penting. Partai tanggal 17 (vs Malaysia) juga penting. Tapi, partai tanggal 19 (semifinal vs Vietnam) jauh lebih penting," kata dia.

Hal kedua yang diperlihatkan RD pada laga versus Malaysia adalah revisi cepat dan tepat saat performa tim tak sesuai rencana. Berkat koreksi yang dilakukan saat jeda, performa Indonesia berubah dari amburadul sepanjang babak I menjadi lebih baik pada babak kedua. Setidaknya lima peluang emas bisa didapatkan setelah koreksi yang dilakukannya.

Membenahi permainan dalam waktu singkat bukan perkara mudah. Pelatih harus mampu mengoreksi dan mengkritik para pemain di ruang ganti tanpa membuat mereka down . Sebaliknya, dia justru harus tetap memompa semangat anak-anak asuhnya. Butuh kata-kata yang simpel dan mudah dicerna oleh para pemain yang tengah kelelahan. RD mampu melakukan itu.

Sementara itu, saat melawan Vietnam, kejelian meramu strategi jitu sangat terlihat. Demi meredam gaya main lawan, dia berani mengambil risiko menerapkan pressing football yang menguras lebih banyak energi. "Saya instruksikan agar pemain tak memberikan celah dan ruang kepada para pemain Vietnam," kata dia.

Hasilnya, Vietnam tergagap-gagap. Mereka bahkan terpancing untuk bermain kasar. Pelatih mereka, Falko Götz, bahkan sampai berkali-kali berteriak dari pinggir lapangan sambil memberikan isyarat dengan kedua tangannya. "Slow down, slow down... " Seusai laga, pelatih asal Jerman itu tak segan mengakui keunggulan Indonesia.

"Indonesia tampil lebih baik dari kami. Kami ingin tampil lebih ofesnsif dan mengandalkan serangan balik, tapi pressure dari Indonesia demikian tinggi sehingga menyulitkan kami. Dalam situasi satu lawan satu, kami juga selalu kalah," jelas Götz.

Putusan-putusan cermat dan tepat itu sendiri tidak datang begitu saja. RD mengakui pilihan menerapkan pressing football berdasarkan analisis terhadap rekaman empat laga yang telah dilakoni Vietnam. Dalam prosesnya, dia pun pastinya sangat terbantu oleh Aji santoso dan Widodo Cahyono Putro selaku asisten yang punya kualitas luar biasa.

Berbekal pelbagai kelebihan itu, tak salah jika saya bilang kita beruntung memiliki RD. Selain membawa Indonesia secara sah boleh memimpikan medali emas, dia juga memberikan pelajaran kepada kita bahwa ketelatenan, kecermatan, kerja keras, dan motivasi lebih utama ketimbang skill dan postur, dua hal yang selalu saja dikeluhkan para pelatih asing yang menukangi timnas kita, tak terkecuali pelatih timnas senior Wim Rijsbergen.

Asep Ginanjar
Reporter - Tabloid SOCCER & DuniaSoccer.com

  • Rating :
  • 3/5 (116 votes)

Komentar

Optional: Login below.

comments powered by Disqus

Arsip