[x] close
[x] close

New User Sign Up
13 Juli 2010 | 22:38

Menyerang untuk Menang

Andibachtiar Yusuf
Andibachtiar Yusuf

“Mereka tidak ingin bermain sepak bola!” cetus Johan Cruyff, legenda total voetbal dari Belanda. “Kami bermain tanpa jati diri, jati diri para pemenang yang secara naluriah selalu ingin menguasai bola. Kami bermain layaknya tak ingin bersentuhan dengan bola,” umpatnya kesal pada tim negerinya.

Johan adalah anak didik langsung dari sang maestro pencipta sepak bola posesif ala Belanda, Rinus Michels. Ia adalah anggota sekaligus aktor utama tim Oranye di era 1970-an.

Di karier kepelatihannya, Johan adalah seorang pencinta permainan menyerang sejati. Baginya, sepak bola adalah keindahan, kolektivitas, dan kemenangan. “Sepak bola adalah permainan kesempurnaan, ruang bagi kesalahan hanya dimiliki oleh para pecundang,” tegasnya pada sebuah wawancara saat ia masih memimpin skuad Barcelona di Spanyol.

Josep Guardiola adalah sosok langsung penerus sang maestro, lelaki yang juga selalu menerjemahkan permainan terindah ini ke dalam keindahan yang sebenarnya. Baginya keindahan sepak bola adalah kelengkapan dari kemenangan. Maka, lihatlah bagaimana El Barca bermain pada era kepemimpinannya. Penuh gaya, imajinasi, kolektivitas, dan tentu saja hasrat untuk memenangkan pertandingan.

“Kami selalu memainkan sepak bola menyerang dengan baik. Nyatanya, kami tidak pernah memenangkan gelar, juga tidak pernah lolos ke final,” cetus Bert Van Marjwik, arsitek De Oranje di Piala Dunia 2010. Maka lahirlah sepak bola pragmatis ala banyak tim yang seolah hanya ingin menang sembari melupakan salah satu esensi pada sepak bola, kesenangan.

“Bagaimana Anda bisa bersenang-senang jika kreativitas Anda dikungkung?” tukas Pele mengomentari tim nasional negerinya di bawah asuhan Dunga. Pele tentu berprinsip sama dengan Johan, baginya sepak bola adalah drama besar dan harus dimainkan dengan segala keindahan “Karena sepak bola adalah seni,” ujarnya Pele menjelaskan falsafahnya.

Piala Dunia 2010 memamerkan cara main yang berbeda dari De Oranje. Tim yang saya sebut selalu mempertontonkan sepak bola terbaik bahkan saat bertarung melawan tim yang secara teori mampu menaklukkan mereka.

Satu-satunya tim yang mau meladeni permainan terbuka Brasil di Piala Dunia 1994, sebuah tim Samba yang memiliki permainan sepak bola menyerang yang sempurna saat itu. Ketika semua lawan bermain bertahan, praktis hanya Belanda yang tetap mau bermain terbuka melawan Brasil sekaligus mempertontonkan esensi Sepak bola yang sebenarnya.

Pada hasilnya, aksi anak asuhan Van Marwijk sebelum babak final memang sempurna. Mereka memenangkan seluruh pertandingan sampai semifinal. Berbeda dengan Spanyol sang lawan yang justru pernah kalah di pertandingan awal, Belanda memulai final Senin dini hari lalu dengan kesempurnaan hasil.

Anda pasti menyaksikan juga pertandingan final itu, partai menarik yang menunjukkan bagaimana sepak bola dimainkan dengan benar. Spanyol bermain dengan keinginan untuk terus menguasai bola dan mengalirkan bola dengan taktis ke arah depan. Belanda mencoba menghambat lawan mereka dengan berbagai cara yang diperbolehkan di sepak bola.

Pada 15 menit pertandingan berjalan dan saya menemukan Spanyol adalah tim yang percaya bahwa kemenangan bisa diperoleh, walau harus menunggu sampai babak perpanjangan waktu. Sementara Belanda, adalah tim yang terus mencari celah untuk menang namun gagal.

Sepak bola menyerang telah dimenangkan dan saya segera mengirim pesan singkat lewat ponsel saya pada seorang teman di Madrid yang terus berpesta bahkan mungkin sampai tulisan ini Anda baca.

Andibachtiar Yusuf
Filmmaker & Football Reverend

  • Rating :
  • 3/5 (30 votes)

Komentar

Optional: Login below.

comments powered by Disqus

Arsip