[x] close
[x] close

New User Sign Up
02 November 2010 | 22:53

Daftar Hitam Suporter, Perlukah?

Panji Kartiko (Fans Sepak Bola)
Panji Kartiko (Fans Sepak Bola)

Belum genap setengah musim Liga Super Indonesia (ISL) musim ini bergulir. Tapi, sayang prestasi pentas  sepak bola sering dihiasi dengan adegan kerusuhan dan anarkis yang dilakukan penonton dan kalangan supporter tidak resmi maupun resmi.

Bahkan saat ini secara kasat mata dapat dirasakan bahwa suporter saat ini seolah berlomba mengedepankan ego kelompok, membuat provokasi melalui kaos, spanduk dan lagu-lagu.

Sebenarnya arah pembelajaran dan pendewasaan supporter Indonesia sudah acap kali dimulai oleh berbagai pihak. Mulai Deklarasi Hari Suporter Indonesia di 12 Juni 2000, Deklarasi Asosiasi Suporter Sepakbola Indonesia (ASSI) yang hanya seumuran jagung karena tidak bisa mengendalikan ego di kalangan pengurus, pembentukan Community Relation Netter Liga Indonesia (CORNEL), hingga Jambore Suporter Indonesia yang digagas dan disponsori oleh salah satu produsen rokok di Indonesia.

Kalau kita mau belajar dari proses pendewasaan supporter Inggris yang dijuluki “hooligans”, dulu mereka sangat dikenal brutal dan sering rusuh. Salah satu yang paling diingat adalah Tragedy “Heysel” di Belgia, pada final Piala Champions antara Liverpool dan Juventus yang menelan korban 39 orang tewas, 29 Mei 1985. Saat itu seluruh klub di Inggris terkena imbasnya dengan hukuman larangan tidak boleh ikut kompetisi Eropa selama 5 tahun.

Ternyata peristiwa tragis itu adalah tonggak awal momentum perbaikan supporter Inggris. Ditambah adanya Tragedi Hillsborough, FA mulai memperbaiki tatanan penomoran bangku di stadion, penghilangan pagar penonton sampai yang paling ampuh adalah mendata kembali suporter yang mempunyai track record buruk dan kriminal untuk dimasukkan pada database blacklist suporter.

Dari kasus diatas, kita semua para stakeholder sepak bola Indonesia sebenarnya bisa melakukan analisis studi banding (tanpa perlu keluar negeri seperti anggota DPR) untuk mencoba memperbaiki iklim suporter Indonesia yang mulai “step back” dan kurang produktif.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
1. Sosialisasi Peraturan Sepak bola dan aturan yang berkaitan dengan Suporter.
Peran PSSI, media, dan dukungan dana dari sponsor dapat dilakukan secara aktif dan massal di kalangan seluruh supporter di Indonesia. Hal tersebut bisa dilakukan melalui edukasi talkshow, spanduk, majalah, pamflet, media resmi suporter, iklan media cetak dan elektronik, hingga aksi kreatif lainnya.

Saat ini masih banyak sekali kalangan suporter yang belum paham betul mengenai aturan terkini tentang offside, prosedur pemberian kartu, pelanggaran, overtime dll yang up to date dengan rule of the gamenya FIFA.

Satu lagi yang penting yaitu sosialisasi tentang lampiran Kode Disiplin FIFA Artikel 58 tentang diskriminasi dan rasis dalam sepak bola.

Artikel 58 Kode Disiplin FIFA menyatakan:
a.  Siapapun yang menyinggung martabat seseorang atau sekelompok orang melalui hinaan, tindakan diskriminatif, atau pencemaran nama baik, atau melalui tindakan yang berhubungan dengan ras, warna kulit, bahasa, agama atau suku bangsa akan dihukum sebanyak 5 kali pertandingan. Kemudian, dilarang masuk stadion, dan didenda minimal 20000 franc swiss (Rp176 juta). Jika pelaku adalah ofisial tim, maka jumlah denda adalah sebesar 30000 franc swiss (Rp264 juta).

b. Jika beberapa orang (ofisial team atau pemain) dari klub yang sama atau timnas terus menerus melanggar ayat 1 poin a di atas, atau memperburuk keadaan, maka tim tersebut akan mengalami pengurangan nilai sebanyak 3 poin pada saat pelanggaran pertama dan 6 poin pada saat pelanggaran selanjutnya. Pelanggaran yang dilakukan terus menerus akan mengakibatkan degradasi bagi tim. Dalam sistem gugur, tim akan langsung didiskualifikasi.

c. Jika supporter tim melanggar ayat 1a , denda minimal 30000 franc swiss akan dijatuhkan kepada timnas atau klub terlepas dari melakukan kesalahan atau lalai melakukan pengawasan.

2. Pemberlakukan Blacklist Suporter
Pemerintah Inggris pernah melakukan cekal bagi 3.200 suporter hooligans yang akan berangkat mendukung Wayne Rooney dkk di Piala Dunia 2010. Para supporter tersebut dipaksa menyerahkan paspornya sampai dengan berakhirnya kejuaraan dunia tersebut. Hal tersebut dengan mudah dilakukan oleh pihak imigrasi, karena Inggris memiliki database suporter hooligans yang kerap berulah dan masuk dalam blacklist suporter.

Blacklist Suporter adalah suatu daftar/list suporter yang pernah tertangkap oleh pihak keamanan karena melakukan tindak pidana maupun kerusuhan pada saat laga pertandingan sepak bola berlangsung.

Ide blacklist suporter ini perlu didukung koordinasi yang baik dari kalangan PSSI, BLI, organisasi resmi supporter, sponsor, dan pihak Kepolisian. Berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan blacklist supporter :

1) Wajib didukung dengan dana yang memadai untuk implementasi system database suporter yang masuk dalam blacklist tersebut. Dana tersebut tentunya terkait dengan biaya pembelian hardware, software hingga resources project lainnya. Sistem tersebut haruslah berbasis web dan online ke seluruh stadion yang ada di Indonesia. Untuk tahap awal mungkin dapat dilakukan di laga kompetisi tertinggi dahulu.

2) Tentukan parameter atas supporter yang masuk dalam kriteria tersebut, seperti masuk stadion tanpa tiket, melakukan pelemparan di stadion, suporter yang mabuk dan berulah negatif, tindakan rasisme, perkelahian antarsupporter atau penonton serta perilaku kriminal lainnya.

3) Informasi yang ada di database tersebut juga haruslah lengkap, mulai dari Identitas diri, foto, sidik jari, hingga track record hitam suporter tersebut. Tentunya sistem tersebut juga dapat menyaring nama yang sama agar tidak ada salah orang melalui skema filter alamat, sidik jari, dan hal unik lainnya.

4) Larangan bagi supporter yang masuk blacklist tesebut dapat secara bertahap dan memiliki jangka waktu kadaluarsa sesuai dengan tingkat kesalahan yang dilakukan. Mulai dari larangan menonton dan hadir di wilayah sekitar stadion hingga tahapan sanksi penahanan apabila tetap nekat nonton di stadion.

5) Blacklist suporter tersebut wajib didukung dan dilakukan secara konsisten oleh PSSI tanpa “diskon” khusus. Hal ini mengingat bahwa dari ketua umum PSSI saat ini yang sering menggunakan hak vetonya untuk membolak-balikan aturan dan sanksi yang telah diputus oleh Komdis.

6) Single Identity untuk semua suporter, meskipun dia telah pindah alamat,  pindah keluar provinsi atau bahkan pindah ke lain hati dengan mendukung klub lain dari kota lain.

7) Sosialisasi dan tahapan uji coba atas sistem blacklist supporter perlu dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan meminimalkan salah interpretasi di setiap kalangan stakeholder sepak bola Indonesia.

Ide Blacklist supporter ini juga hendaknya didukung dengan system penomoran bangku stadion yang sesuai dengan apa yang tertera di karcis/ tiket pertandingan. Tentunya ini dimaksudkan untuk lebih memudahkan identifikasi atas pelaku kerusuhan yang dilakukan oleh supporter.

Pemasangan CCTV di setiap sudut stadion, steward pertandingan yang menjaga laga dengan disiplin hingga petugas keamanan yang menyamar sebagai penonton dan berbaur di dalam stadion adalah salah satu teknik yang dapat dipakai sebagai sarana identifikasi dan mitigasi dari pelaku, pencegahan membesarnya effect & impact kerusuhan hingga tim investigator dengan cepat dapat mengetahui akar permasalahan.

Meskipun kita semua menyadari bahwa sepak bola adalah tontanan rakyat yang berbasis massa besar, Tagline “small but beautifull” mungkin lebih tepat jika dianotasikan dengan lebih baik mengedepankan anggota yang berkualitas meskipun sedikit jumlahnya daripada punya basis massa supporter puluhan ribu tetapi sering rusuh dan sangat sulit dikontrol.

Saat ini perlu ditanamkan pengertian bahwa suporter wajib berimbas positif kepada klub, bukannya malah menimbulkan sanksi bagi klub baik berupa denda, pertandingan tanpa penonton hingga patai usiran.

Suporter adalah salah satu bahan bakar utama klub dari sisi finansial, mulai dari hasil penjualan tiket, penjualan merchandise, penjualan saham, download RBT lagu resmi klub, hingga memancing animo sponsor untuk merapat karena potensi pangsa pasar yang luas.

Satu hal yang lebih penting lagi adalah perilaku professional dari jajaran pengurus PSSI dan klub dalam mengelola sepak bola di Indonesia. Teladan nyara tersebut sebagai contoh sahih dan manjur bagi kalangan suporter untuk dapat menyatukan suara dan langkah demi kebaikan, persahabatan dan kondusifnya iklim sepak bola di Indonesia.

Nah kalau semua analisis dan paparan tersebut di atas dapat dijalankan dengan baik dan konsisten, mungkin kita semua nantinya dapat berharap kompetisi sepak bola di Indonesia menjadi sarana sponshorship yang jitu, komersialisasi ekonomi dan nyaman didatangi oleh anak-anak dan kaum hawa seperti layaknya stadion di Inggris yang memberlakukan penghilangan pagar penonton di pinggir lapangan.. Jadi kalau begitu nggak salah dong kalau kita teriakkan “Blacklist supporter, siapa takut!"  

Penulis,
Panji Kartiko
Warga Sepak Bola Indonesia

  • Rating :
  • 4/5 (112 votes)

Komentar

Optional: Login below.

comments powered by Disqus

Arsip